Monday, June 8, 2015

BANDUNG - TANGKUBAN PARAHU

Home sweet home, and there's no place sweeter than home. Senang bisa ada dirumah after having a short gateway with friends and family in Bandung last weekend. Well, i can't wait to post some story about our short gateway! Meskipun perginya hanya 2 hari 1 malam, but the holiday was very much enjoyed. Trip kali ini saya sengaja membawa salah satu assisten rumah tangga saya untuk sekadar membantu menjaga Inaaya disana berhubung saya disini sekalian curi-curi waktu untuk kerja, dan untungnya jarak dari Jakarta ke Bandung juga tidak terlalu jauh, jadi tidak perlu tekor-tekor banget kalau kita mau membawa Mbak untuk ikut serta.


This time we went to some cool places around and played tourist! Haha. Biasanya cuma main di seputaran Kota Bandung aja, tetapi kali ini saya sudah mempersiapkan itinerary selama 2 hari di Bandung supaya waktu liburan dan kerja saya bisa disesuaikan dan dimanfaatkan dengan baik. Nah, trip kali ini juga tidak terlalu sepi karena ada sahabat-sahabat saya yang ikut serta untuk holiday bersama, double the fun!

Berangkat dari Jakarta sekitar pukul 06.00 WIB untuk menghindari kemacetan di pintu masuk tol Kota Bandung dan sampai disana sekitar pukul 09.00 WIB. Pagi itu saya cukup excited karena akhirnya bisa pergi bersama anak dan suami, because we're both is kinda busy these past few weeks. Let's just say that i'm being too excited about being here, so the city decided to gave me a little surprises. First surprise, waktu sedang mencari hotel tempat kami menginap saya melihat polisi melambaikan tangan untuk memberhentikan mobil yang saya kendarai (suami sedang beristirahat dan makan di kursi penumpang), i stop, then smiling, then get off the car to see the police. I was thinkin' hard about what happened, dan polisi menjelaskan sedikit kesalahan jalur saya yang ambil. Okay then, saya menyerahkan beberapa surat-surat kendaraan dengan santai, and....... i forgot my driving license.  Quite stupid. Akhirnya setelah diberikan surat biru, pengurusan sana sini which makes me wasted 2 hours of my time, saya langsung menuju hotel dan sedikit kesal dengan kebodohan kecil yang saya buat pagi itu.

Setelah drop beberapa barang di hotel, kita langsung menuju ke Tangkuban Parahu because we didn't want to waste more time in here. Jarak tempuh dari hotel juga tidak terlalu jauh, sekitar 1 jam kita sudah sampai disana. It was nice to see the mountain, breathing some fresh air, seeing the beauty of the pine trees, and suddenly.... ketika suami saya sedang menyetir dijalan menanjak kearah kawah, di tikungan jalan kita melihat 2 bus yang sedang melaju dengan sangat cepat, and i just knew that somehow we will got hit buy the bus, jadi suami mengambil jalur sangat mepet di kiri dan berhenti sejenak, namun "bruuuk', sisi samping mobil terkena hantaman bus tersebut namun tidak terjadi kehancuran yang parah, hanya sedikit goresan di bagian depan mobil. Si supir bus meminta maaf atas kejadian tersebut, meskipun suami saya cukup kesal dengan teman si supir bus ini berteriak-teriak merasa benar, at least everything was okay. Semua selamat dan tidak kekurangan suatu apapun. 

Now, let's get back to the fun! Sesampainya di Tangkuban Parahu, pengunjung akan dikenakan biaya Rp 30.000 per orang dan Rp 35.000 untuk satu mobil. Untuk anak dibawah 2 tahun tidak akan dikenakan biaya masuk. Sesampainya disana, di awal pendakian kalian bisa menemukan 'Kawah Dompas'. Disini banyak kegiatan yang bisa dilakukan dari mulai menginjak abu, merebus telur, memijit kaki dan berendan di air dengan suhu hangat. Namun untuk masuk kedalam diwajibkan untuk didampingi oleh pemandu yang memberikan harga sebesar Rp 150.000. Saya sendiri memutuskan untuk tetap naik ke Kawah Ratu dimana kita bisa melihat kawah dari atas tanpa harus diiringi pemandu. Sesampainya diatas saya langsung mengajak Inaaya untuk foto-foto dan mengajak Inaaya berkeliling dengan kuda. Sayang sekali pada saat saya berkunjung, tempatnya begitu ramai dan padat, mungkin sebaiknya berkunjung pada saat weekdays jika tidak ingin terlalu ramai.


Tangkuban Perahu (spelt Tangkuban Parahu in the local Sundanese dialect) is a dormant volcano 30 km north of the city of Bandung, the provincial capital of West Java, Indonesia. It last erupted in 1826, 1829, 1842, 1846, 1896, 1910, 1926, 1929, 1952, 1957, 1961, 1965, 1967, 1969, 1983. It is a popular tourist attraction where tourists can hike or ride to the edge of the crater to view the hot water springs and boiling mud up close, and buy eggs cooked on the hot surface. (Source: Wikipedia)




The Legend: The name translates roughly to "upturning of (a) boat" or "upturned boat" in Sundanese, referring to the local legend of its creation. The story tells of "Dayang Sumbi", a beauty who lived in West Java. She cast away her son "Sangkuriang" for disobedience, and in her sadness was granted the power of eternal youth by the gods. After many years in exile, Sangkuriang decided to return to his home, long after the two had forgotten and failed to recognize each other. Sangkuriang fell in love with Dayang Sumbi and planned to marry her, only for Dayang Sumbi to recognize his birthmark just as he was about to go hunting. In order to prevent the marriage from taking place, Dayang Sumbi asked Sangkuriang to build a dam on the river Citarum and to build a large boat to cross the river, both before the sunrise. Sangkuriang meditated and summoned mythical ogre-like creatures -buto ijo or green giant(s)- to do his bidding. Dayang Sumbi saw that the tasks were almost completed and called on her workers to spread red silk cloths east of the city, to give the impression of impending sunrise. Sangkuriang was fooled, and upon believing that he had failed, kicked the dam and the unfinished boat, resulting in severe flooding and the creation of Tangkuban Perahu from the hull of the boat.



Setelah berfoto-foto dan naik kuda, kita langsung menuju ke area souvenir dan membeli beberapa oleh-oleh. Para pedagang disini cukup ramah, mereka menjual berbagai jenis souvenir mulai dari Kaos, Angklung, Belerang, Tas, dsb. Kita juga menyempatkan diri bersantai sambil meminum es kelapa muda menghadap ke arah kawah. 






Dari daerah area souvenir, kalau kamu masih punya banyak tenaga saya sarankan untuk semakin turun kebawah, kalian akan menemukan kawah ratu, dimana kalian bisa melihat kawah lebih dekat lagi meskipun tidak terlalu dekat dan tidak langsung seperti Kawah Dompas, namun disini kalian bisa menemukan warung makan kecil untuk menikmati cemilan seperti gorengan dan es kelapa, serta bisa berbincang-bincang dengan para pedagang/penduduk lokal.



 "i gotta see the crater, mam"

 Playing with the local

Last but not least, i gotta post our very first family picture on social media, here in our blog.
Ya'll must be so curious, right?

Every family has a story.... Welcome to ours :)

See you on the next post. Gotta post more exciting places in Bandung City as soon as possible. If you want to read more post like this, go to our Travel page.

No comments:

Post a Comment