Thursday, November 3, 2016

Bali Trip - Day 2




Back to my Bali Trip post! Kali ini aku mau cerita itinerary ku dan keluarga di hari kedua di Bali. Di hari kedua ini kami banyak bersantai di Grand Mirage Resort and Thalasso Bali (Untuk cerita kegiatan lengkap kami selama di resort, kalian bisa baca disini ya) lalu pada siang hari kami memutuskan untuk pergi ke GWK dan melanjutkan trip ke Pura Uluwatu untuk menyaksikan Tari Kecak. Karena mungkin kami terlalu santai di hotel, kami baru keluar sekitar pukul 3 sore dan mengingat perjalanan ke Uluwatu cukup jauh, akhirnya kami terpaksa melewatkan GWK untuk mengejar sunset di Pura Uluwatu serta melihat monyet-monyet 'iseng' yang ada disana :p



Pura Uluwatu merupakan pura yang berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Badung.
Pura yang terletak di ujung barat daya pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin. Pura ini terletak pada ketinggian 97 meter dari permukaan laut dan tepat dibawahnya ada pantai Pecatu dimana kita bisa melihat ombak pantaidan keindahan alam Bali yang sangat indah (Source: Wikipedia)
Perjalanan dari resort kami menuju Pura Uluwatu kurang lebih memakan waktu sekitar 30 menit berkendara dengan mobil. Sesampainya disana kalian perlu membayar biaya untuk warga setempat (bukan tiket masuk ke Pura ya!)

Motor : Rp. 1000 - Mobil : Rp. 2000 - Bus : Rp. 10.000

Didalam, kita langsung masuk ke area parkirnya yang luas sehingga bcukup nyaman bagi yang membawa kendaraan sendiri. Setelah parkir kita akan langsung melihat loket karcis dimana kita diwajibkan untuk membayar karcis dengan detail harga sbb:

Dewasa : Rp. 30.000 - Anak : Rp. 20.000

Sebelum memasuki pura, wisatawan wajib mengenakan kain khusus, yaitu kain sarung untuk mereka yang mengenakan celana atau rok di atas lutut, serta selendang untuk wisatawan yang memakai celana atau rok di bawah lutut. Kain sarung dan selendang kuning (salempot) tersebut menyimbolkan penghormatan terhadap kesucian pura, serta mengandung makna sebagai pengikat niat-niat buruk dalam jiwa


Setelah puas menikmati keindahan panorama alam dan berfoto di Pura Luhur Uluwatu, saya tidak ingin melewatkan pergelaran Tari Kecak yang sakral, dan ingin sekali untuk memperkenalkan Naaya terhdapa budaya Bali yang satu ini. Untuk menyaksikan Tari kecak ini kita diwajibkan untuk membeli lagi tiket seharga 100.000 per orang (tidak ada perbedaan harga untuk warga lokal maupun aisng) dan bersiap untuk duduk di arena Tari Kecak yang terbuka dan posisi nya sangat tepat untuk menyaksikan matahari terbenam. Pagelaran ini di adakan dari mulai pukul 18.00-19.00 WITA, saya sendiri sudah mulai duduk dari jam 17.30 untuk menghindari penuhnya area ini. Untung kami datang cepat dan mendapatkan lokasi yang sangat strategis menurut saya untuk menyaksikan Tari Kecak serta Sunset disini.



Tari Kecak sendiri merupakan tarian khas Bali yang tidak menggunakan alat musik apa pun selama pementasan, tetapi diiringi paduan suara “cak,cak,cak…” dari kurang lebih 70-100 pria secara bergantian dengan ritme membentuk suara seperti tabuh atau gamelan untuk mengiringi para penarinya. Saat masuk kita akan diberi kertas panduan mengenai sejarah Tari Kecak dan adegan cerita Rama Shinta yang disisipkan diantaranya. Menurut kertas panduan itu, tari Kecak berasal dari Tarian Sakral (Tari Sanghyang) yaitu seseorang yang sedang kemasukan roh dapat berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah di sucikan.


Ketika warna jingga sudah menghias langit dan area terbuka disana sudah penuh dengan pengunjung, seorang pembawa acara mengumumkan bahwa tarian akan segera dimulai. Seketika puluhan pria bersarung kotak-kotak yang tidak menggunakan atasan masuk ke panggung sembari mengangkat tangannya dan meneriakkan cak cak cak beserta bunyi musik lainnya dari mulut mereka. Ketika para penari kecak sudah duduk melingkari perapian yang telah padam, sesepuh yang membuka ritual tadi kemudian memercikkan air suci kepada para penari. Setelah beberapa saat pertunjukkan kecak yang dimulai, saya melihat Inaaya berhasil terhipnotis takjub dengan banyaknya jumlah penari dan latar musiknya, dia sampai hanya mengedip beberapa kali :p Setelah tari kecak berjalan sekitar 5 menit, lalu cerita Ramayana pun mulai disajikan. Untuk ceritanya sendiri, aku ga tulis disini ya karena cukup panjang :p Don't worry, saat anda disana seluruh cerita juga akan ada di kertas panduan ya.



Adegan demi adegan berlangsung cepat. Salah satu momen paling magis adalah ketika Hanoman dikelilingi sabut kelapa yang dibakar. Panglima kera itu berhasil keluar dari "lingkaran api" yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Langit sudah berganti gelap, Inaaya makin takjub melihat adegan hanoman mulai keluar dari lingkar api. Setelah berhasil, ternyata hanoman cukup 'iseng' karena lompat ke beberapa area penonton untuk selfie dan Inaaya sedikir ketakutan karena dia tidak mau dihampiri oleh si Hanoman :p Saya sendiri sempat menenangkan Inaaya beberapa kali tapi masih deg-deg an takut si Hanoman dengan polosnya loncat ke area kita, bisa nangis ga karuan anak saya T__T


Menjelang akhir acara, tanpa disangka-sangka, Rahwana menghambur ke tengah arena dan mengajak ngobrol para pengunjung. Celotehan Rahwana menuai gelak tawa dari para pengunjung, terutama warga asing. Meski kecak adalah tarian sakral, pertunjukan ini tidak membosankan karena unsur humor yang disisipkan di akhir acara. Seusai pertunjukan, para penonton pun bertepuk tangan puas, saya sekeluarga pun puas sekali menghabiskan waktu sejam disana. Saya melihat banyak pula yang mendatangi Hanoman untuk bersalaman atau sekadar selfie, saya juga kepingin sih untuk kenang-kenangan, sayangnya anak saya masih takut sama hanoman gara-gara dia sibuk loncat ke area penonton, haha.

Selesai menonton pertunjukan Tari Kecak, kami sempat mampir ke Sanur Night Market. Suami sempat info kalau ini salah satu rekomendasi kuliner di Bali. Ternyata begitu sampai, tempatnya kurang lebih mirip area kuliner malam di daerah pasar dekat rumahs saya dan makanannya super standard haha. Failed? Totally. Saya kurang mengerti juga kenapa area ini direkomendasikan, karena kamera battery nya habis jadi saya terpaksa akan comot gambar dari google ya untuk si Sanur Night Market ini.

Source: Google

Makanannya sendiri standard makanan indonesia dari mulai nasi campur, nasi goreng, sate ayam, roti bakar, seafood, pecel ayam, dsb. Untuk harga sih cocok untuk para backpackers, kalau untuk family saya ga merekomendasikan tempat ini sama sekali. Satu porsi makanan disini rata rata sekitar 15.000-20.000, which is pretty cheap. Setelah menikmati satu porsi sate ayam, tongseng, roti bakar dan nasi campur, kami lanjut ke hotel untuk beristirahat karena akan checkout pagi hari sebelum melanjutkan ke hotel kami selanjutnya.

Thank you for reading, next akan post itinerary hari selanjutnya dan review baru hotel kedua kami. Keep an eye for an update! :D

No comments:

Post a Comment