Friday, August 4, 2017

Unexpected Birth Story (II)

Sesaat sesudah di adzan papa :')

Yes, aku akan melanjutkan postingan birth story yang kemarin sempat terpotong disini ya karena kemarin mom-duty benar-benar menumpuk dan rasanya ga mungkin colongan ketik ketik hihi.


Postingan dilanjutkan dari mulai pesan terakhir yang aku sampaikan yaitu aku mau IMD, titik. Sungguh itu satu pernyataan yang cukup buat deg-degan karena kegagalan IMD sama kakak Naaya itu masih cukup bikin aku kecewa. Saya ingat betul beberapa saat Naaya keluar dari rahim dan saya langsung mencium keningnya dan all of a sudden seluruh pandangan disekitar saya pun jadi gelap. Yes, i passed out.

Aku kurang mengerti kenapa aku passed out dan yang kuingat hanya i woke up 5 hours later. Operasi dimulai jam 9 pagi, dan saat terbangun aku melihat jam di area pemulihan sekitar pukul 4 sore. Saya terbangun dalam keadaan panik, mencari Naaya karena saya belum sempat melihat wajahnya secara jelas atau bahkan skin-to-skin bersama Naaya. Sejam setelah saya masuk ke kamar barulah saya bertemu dengan Naaya dan memancing ASI keluar dengan membiarkan Naaya belajar untuk menyusu ke puting saya. It feels like the longest hours in my entire life just to see Naaya, and i don't want it to be happen again.

Kembali ke cerita saat diruang operasi. Hal pertama yang dilakukan team dokter sudah pasti membius saya. Bagi yang sudah pernah operasi caesar, pasti paham deh betapa ga enaknya dibius setengah badan. Jadi obat bius nya itu dimasukkan/disuntikkan di tulang belakang dimana itu SAKIT BANGET. Dari jaman kakak naaya lahiran, itu bagian yang paling saya ga suka. Nah kemarin itu saya harus melekungkan badan saya dan berkali-kali gagal karena obatnya gagal masuk. Padahal setiap percobaan obat bius masuk itu sakit nya luar biasa, eh pake acara diulang-ulang. Mungkin karena saya belum tenang juga jadilah banyak bergerak kesana kemari. Lalu setelah itu saya dipasangkan kateter dan ini sih ga sakit kok, lama-kelamaan kaki mulai kerasa kesemutan sampai akhirnya tidak bisa digerakkan sama sekali. (By the way kebijakan dirumah sakit ini saya ga bisa bawa orang lain ke ruang operasi ya even suami sendiri jadi enda juga ga bisa ambil gambar hiks)

Bagian depan tepatnya diatas dada saya ditutup kain yang disangga semacam tiang tinggi supaya saya tidak melihat kearah perut yang sedang diubek-ubek dokter haha yang ada pingsan kalau sampai saya liat mah :D Lanjut saya langsung confirm beberapa kali kalau saya ingin IMD, team pun mengiyakan dan saya benar-benar mencoba tenang dan memberi sugesti ke diri saya, "Don't passed out...". Pokoknya kata-kata itu diulang beberapa kali di kepala saya saking saya takutnya pingsan. Poor mom, ditengah proses operasi justru hal lain yang terjadi pada diri saya yaitu gemetaran. Saya menggigil hebat sampai suara gigi saya pun terdengar jelas di ruang operasi yang super hening dan salah saya pun menanyakan apakah hal tersebut normal atau tidak. Salah seorang dokter bius yang terdekat dengan saya (beliau duduk tepat disebelah kepala saya) menjawab bahwa itu hal normal. He asks someone for a towel (lots of towel) untuk mengcover dada dan leher saya agar saya tidak menggigil hebat. But it doesn't stop. I'm still shaking, pretty bad. Saya kesal karena akhirnya salah satu team yang membantu operasi bilang, "Kamu gemetaran sekali, bayi nya ga mungkin ditaruh diatas dada"

Kesel. Sampai ngomong kasar dalam hati, memaksa diri saya gimana caranya biar berenti gemetar. Sampai akhirnya saya berhasil denger suara tangisan Naura saya masih gemetar dalam keadaan memaksa mata melek. I kissed her right away, dan Naura langsung dibawa pergi. Argh, sedih banget rasanya. Lucu nya saya mungkin masih terpaku dengan sugesti pertama untuk tidak pingsan, jadilah sepanjang area perut dijahit saya sama sekali ga passed out atau ketiduran. Bahkan sampai saya dibawa ke ruang pemulihan saya masih melek, menahan rasa kantuk dan lelah yang luar biasa cuma karena mau lihat Naura. Sungguh habis operasi caesar itu rasanya badan lelah luar biasa, kaya habis muterin lapangan senayan 20x, sekujur badan pegel-pegel banget pokoknya.

Suami pun masuk ke ruang pemulihan dan langsung menenangkan saya karena ga sempat IMD dan menghibur dengan menunjukkan foto-foto Naura yang sangat membuat saya sedikit tenang saat itu. Dia langsung mengelus jidat saya tepat diantara jidat dan hidung dan saya berhasil tidur sebentar. Iya sebentar! Cuma 15 menit dan saya langsung kaget bangun karena mau ketemu Naura.


I can't stop asking all the staff in there, "Saya mau ketemu bayi saya." Saya merengek ke suami, merengek ke ibu saya, ke suster, tetap saja ga berhasil. Menurut suster si bayi masih dalam tahap observasi karena suhu nya belum stabil. Huh, sedih banget rasanya. Di ruang pemulihan ini saya ga terlalu lama sih kurang lebih selama 1 jam untuk memastikan tidak ada trouble dalam tubuh saya pasca operasi dan disini pengaruh obat bius berangsur mulai hilang karena saya mulai bisa menggerakkan kaki saya.

Setelah dari ruang pemilihan akhirnya saya dipindahkan ke kamar. Saya masuk kamar sekitar jam 1 pagi, masih dengan rengekan ke suster ingin bertemu si bayi. Tetap gagal dan alhasil saya melek sepanjang malam karena cuma mau ketemu Naura. Setiap jam saya bel suster menanyakan apakah si bayi sudah bisa keluar atau belum. Entah memang prosedurnya begini kah? Saya kesal, suami dan ibu pun terus memantau Naura di ruang perawaran bayi. Belum lagi saya masih belum boleh minum karena takut muntah pasca operasi, jadilah bawaannya kesel terus. Tapi nggak enak banget sih pasca operasi itu haus nya luar biasa dan ditahan selama berjam-jam. Alhasil sekitar jam 3 pagi saya kembali merengek minta minum dan diperbolehkan asal sedikit demi sedikit. Namanya orang haus, dari awalnya dikit-dikit lama lama saya ga sabaran langsung banyak banget minum nya. Ternyata bener, pusing dan mual dan langsung saya stop, haha.

Ssekitar jam 5 subuh saya kembali bel suster, "Sussss ini mau sampai besok saya ga bisa liat anak saya? Saya minta ibu saya dorong kasur saya nih kesana" Kesel. Beneran kesel sampai akhirnya suster bilang saya harus sabar karena suhu Naura kembali tidak stabil pagi ini. Akhirnya saya sibuk liat liat foto yang diambil Enda saat Naura diruang observasi. Sedikit bikin happy karena setidaknya tau suasana disana.







Akhirnya sekitar jam 6 pagi suster pun menginfokan bayi saya akan segera diantar. Yaampun bahagianya setelah pasca operasi 6 jam saya ga ketemu akhirnya bisa lihat Naura. Naura langsung diletakkan disisi saya, Naaya pun super excited mengelus adik baru nya dan langsung Naura saya bantu untuk menyusui langsung ke puting saya.



Alamak. Proses kedua yang paling menyakitkan terjadi; Menyusui! Beneran deh pasti setiap ibu tau rasanya saat pertama kali menyusui itu perihnya luar biasa, luka lecet sampai berdarah belum lagi nyeri. Tapi beneran ya ternyata rasa sakitnya sangat ketolong ketika kita memandang si bayi yang sedang menyusu dengan polosnya, mencoba dan berusaha dalam keadaan yang jauh berbeda saat dirahim hanya untuk menyedot air susu dan saat dia berhasil dia terlihat begitu nyaman berada di dekat ibu nya. Perasaan paling luar biasa yang menurut saya tidak akan biasa diungkapkan dengan kata-kata. Remember, moms? :)

Hari pertama pasca operasi saya pun disarankan untuk belajar membalikkan badan ke kiri/ke kanan lalu duduk. Rasanya hampir sama sih dengan operasi caesar pertama, kalau dibilang sakit ya pasti sakit tapi ga sakit-sakit banget alias masih bisa ditahan lah. Cuma memang proses untuk bisa duduk itu ga gampang ya, perlu perjuangan tersendiri.

Dukungan tanpa henti datang dari suami dan juga ibu saya. Ibu saya selalu mengingatkan untuk mengkonsumsi makanan-makanan sehat dan asi booster untuk memperbanyak ASI. Belum lagi saat payudara bengkak suami lah yang paling membantu saya yang setiap malam meringis kesakitan, dengan bantuan waslap hangat atau botol susu hangat dan membantu memijat bagian payudara yang sempat timbul semacam batu-batu keras didalamnya. Karena takut kena masitis rajinlah kami berdua sehabis menyusui langsung memijat dan memompa ASI agar saya tidak meriang seperti saat saya sehabis melahirkan kakak Naaya.

Bahagia sekali saya dapat memilih ruang kamar yang cukup nyaman dimana didalam nya terdapat ruang khusus untuk bayi sehingga setiap harinya saya yang caesar ini melihat proses Naura mandi, ganti baju, dibersihkan tali pusat nya dikamar saya sendiri. Si Kakak pun nyaman berada di kamar yang sudah disiapkan papa nya lengkap dengan kasur, selimut dan mainan-maian favoritnya supaya dia tidak bosan berada disana.

Keesekon hari setelah operasi ketika visit dokter yaitu dr.Sudirmanto, Sp.og , beliau tanya bagaimana perasaan saya dan saya menjawab sudah jauh lebih baik dari kemarin dan beliau minta saya untuk pelan-pelan latihan duduk di tempat tidur, berdiri kemudian berjalan. Suster-suster di RSAB Harapan Kita ramah semua dan helpful sekali setiap kalibsaya butuh pertolongan apalagi waktu pemasangan korset setiap dibenerin aduh ampun deh pusing sendiri berusaha angkat2 pantat.

Awalnya belajar duduk setelah 24 jam hanya berbaring saja itu ngilu banget sih, tapi karena keinginan saya kuat supaya bisa gendong gendong naura rasa sakitnya jadi nggak begitu menganggu. Sampai saya akhirnya dibantu suami sampai bisa belajar berdiri dan berjalan itu perjuangan yang luar biasa ngilu banget kalau boleh jujur haha. Saya kekeuh nggak mau pakai kursi roda, saya merasa fisik saya kuat. Ternyata memang semakin dilatih berjalan, lama-lama rasa sakitnya berkurang kok. 

Di beberapa hari pertama di rumah sakit, saya sendiri tidak terlalu kesulitan mengurus Naura. Saya menolak juga Naura untuk dibawa ke ruang perawatan bayi meskipun saya kurang tidur karena Naura berkali-kali ingin menyusu, saya kekeuh mau bersama anak saya dan kadang kalau saya tidur toh ada suami dan ibu saya yang menjaga Naura ketimbang saya biarkan di ruang bayi, hehe.

Kejadian paling ga menyenangkan malah di hari kedua pasca operasi saya kena flu, entah dari mana datangnya! Alhasil batuk dan bersin terus sampai jahitan saya ngilu luar biasa. Berkali kali saya minta korset dikencengin karena i feel much better saat bersin dan suster juga menyarankan untuk memegang perut yang kenceng saat batuk atau bersin untuk mengurangi rasa ngilu bahkan disuruh tahan batuk laaaah susah 😭

Besoknya Naura langsung flu meler. Kasian bener liatin bayi baru banget melihat dunia udah meler, ditambah kakaknya ikut ketularan. O m g, kesel saya langsung minta suami beli masker biar ga tular tularan. Beruntung bayi masih punya daya tahan tubuh yang bagus dan ASI sebagai obat jadi keesokan paginya dia sudah baikan karena saya minumin ASI terus.

Nah, setelah setiap hari dapat info bahwa semua baik baik aja dan kita siap pulang eh di hari keempat pasca lahiran, Naura malah dinyatakan kuning dan tidak bisa pulang padahal saya dan suami sudah beberes dan ruangan sudah rapi. Kaget juga kok pas hari terakhir dikasihtau, suami menyarankan kita pulang duluan tapi saya kekeuh stay karena ga mau ninggalin Naura. Akhirnya bongkar koper lagi dan bertahan lagi dirumah sakit padahal udah bener bener bosen dan kesel harus nginep dan kasian Naaya juga sudah 5 hari dirumah sakit. Suster menyarankan untuk terus memberikan ASI yang banyak kalau ga mau disinar (Ini salah satu keputusan yang salah buat saya harusnya saat bilirubin dinyatakan naik saya harus ambil keputusan sinar tapi saya pilih yang alami aja yaitu ASI) Setelah melakukan proses sinar besoknya Naura dicek kembali bilirubin nya dan malah... naik. Aduh, saya udah enek banget sesungguhnya dirumah sakit hampir seminggu, nimbang nimbang mikir apa iya disinar atau tidak, akhirnya ujung ujungnya disinar juga makanya kemarin salah juga saya ga langsung sinar. Harusnya sudah 2 hari sinar dan bisa pulang malah ga bisa pulang. Saking keselnya saya sampai panggil Go-Glam karena kepingin keramas dan pingin ngelakuin hal lain buat bikin diri happy sembari nunggu Naura disinar. Iya, masih sempet-sempetnya centil huahaha.

Di hari ke 6, pengecekan lagi dan bilirubin naik lagi, saya bener bener enek dirumah sakit dan saya tau anak kuning itu wajar. Akhirnya setelah discuss yang panjang bersama suami kami memutuskan membawa Naura pulang dengan bilirubin yang tinggi dan suster serta dokter anak pun mengajarkan cara alami menurubkan bilirubin yaitu dengan ASI yang banyak plus sinar matahari. Saya agak yakin anak saya cuma perlu berjemur aja kok.

Hari pertama dirumah saya dan Naura Naaya banyak beristirahat. Ibu saya pun menginap untuk membantu saya mengurus Naaya dan Naura. Pagi itu Naura langsung saya susuin yang banyak lalu berjemur lalu susuin lagi. Begitu terus sampai seminggu dan saat kami cek alhamdulilah bilirubin nya sudah turun. Kebayang kalau saat itu saya ga bawa pulang, bosen banget pasti dan biaya RS akan membludak banget karena udh sampai seminggu ckck. Rasanya sih campur aduk juga saat nekat bawa Naura pulang, tapi the Power of Mom lah ya pasti tau yang terbaik buat si kecil hehe. Btw, congratulations to ditazahra untuk comment nya di posting pertama Unexpected Birth Story hihi kamu dapat hadiah dari Mama, Naaya dan Naura :D Dan untuk yang lainnya yang sudah comment, boleh DM aku ya untuk aku kasih hadiah-hadiah tambahan dari kami.

Kira kira begitu sih kisah lengkap persalinan kedua saya. Kalau ada kurang kurang ceritanya mungkin karena saya lupa atau keburu buru ngetiknya berhubung disebelah saya udah ada bayik minta mimi susu hahaha. Thank you for reading and have a nice day!

No comments:

Post a Comment