Saturday, August 12, 2017

Dermatitis on Baby


Ada kah anaknya yang mengalami alergi disini?
Topik ini aku angkat hari ini mengingat banyak sekali yang DM mengenai alergi pada Naura yang dulu pernah aku post di Instastory tapi ga ku lanjutin sharing nya karena waktu itu ga tau kalau ternyata banyak yang penasaran dan punya pengalaman serupa. Well, karena sabtu pagi ini aku banyak waktu luang aku akan share sedikit pengalaman aku dalam mengurus Naura yang alergi/punya masalah kulit.


Naura kebetulan lahir dengan permasalahan kulit yang cukup rumit. Berbeda sekali dengan si Kakak nya, yang aman-aman aja selama menyusui dan ga ada tanda-tanda alergi dari semenjak ASI eksklusif. Disini aku jadi dituntut untuk kembali belajar ilmu baru which ist entang alergi dan dermatitis pada bayi. Banyak browsing di forum seputar ibu dan anak, baca buku, tanya dokter sana-sini pokoknya feels like a never ending research deh kalau tentang alergi.

Kenapa Naura bisa alergi? Ya setiap anak itu terlahir berbeda beda dan pasti mengikuti gen ayah ibunya, kebetulan Naura ini ikut gen papa nya yang memang punya permasalahan Dermatitis Seboroik sedari kecil. Sedih sih karena Naura kan perempuan jadi aku agak worry kalau permasalahan kulit ini nantinya kebawa sampai dia besar nanti. Makanya aku banyak research untuk membantu permasalahan kulit dia sejak dini.

Apa saja sih problem kulit bayi itu? Wah banyak sekali dari yang sensitif, gampang merah, bruntusan, atau bahkam belang. Nah hari ini aku mau sharing mengenai gimana awalny aku melihat tanda-tanda alergi di Naura. Awalnya sih kulit Naura itu pertama kali saat lahir bener-bener mulus, 3 hari pasca perawatan di rumah sakit pun ga ada tanda-tanda kulitnya bermasalah, tapi setelah dibawa pulang beberapa hari eh mulai muncul bruntusan merah2 dan jadi banyak dan itu di seputar pipi, jidat, kelopak mata, dada dan perut. Tadi nya saya pikir kena ASI dan info mengenai bruntusan karena ir ASI pun diperkuat oleh beberapa kerabat dekat saya jadi i think it's fine aku hanya biarin aja selamam beberapa hari.

Namun beberapa hari kemudian saya coba untuk selalu alasin supaya ASI ga kemana-mana dan siap kain dekat mulutnya tapi ya kok tetep beruntusan. Rajin saya siapin handuk basah hangat supaya setiap nyusu langsung saya lap mukanya tapi kok semakin banyak malah bener-bener keluar merah merah disepanjang pipi dan bagian belakang telinga bahkan sampai perut dan seluruh badan. The next day saya pun baru notice di kepalanya juga kulitnya kering kelupas2 jd kayak ketombean atau mungkin orang sering bilang Caddle Cap. Kaget juga begitu mengetahui Naura punya Caddle Cap, aku bener-bener worry dan semaleman browsing plus baca-baca forum soal masalah ini plus nanya DSA aku karena sama sekali ga pengalaman di bidang ini. Takut salah perawatan atau gimana-gimana. Ini beberapa foto saat bangun tidur biasanya dia benar-benar semakin parah.



Akhirnya setelah baca sana-sini saya coba untuk memakaikan shampoo Sebamed lalu dapat info dari saudara dan  mertua untuk memakai minyak kletit alias minyak kelapa murni. Ah, dulu naya juga memang penganut minyak kletik banget hehe jadi saya langsung minta mbok untuk membuatkan minyak kletik untuk Naura. Gampang kok bikinnya cukup rebus santan murni dari kelapa tua sampai keliahatan minyak2 lalu disarin. Kalau merasa ribet buatnya bisa juga pakai baby oil dioles diseluruh kepala. Akhirnya setelah rajin oles minyak kletit di seluruh area yang merah-merah, bruntusan dan merahnya malah ga ilang tapi makin nyebar. Pusing 7 keliling, rasanya kok kesel sendiri karena aku punya anak perempuan jadi aku merasa harus extra dalam perawatan kulitnya. Bahkan setiap Naura ikut aku event semua orang juga akan nanya kenapa ini anak kulitnya merah banget dan ga mulus? Sedih banget rasanya.

Seminggu setelah kegalauan itu, muncul lagi hal yang paling mengerikan buat aku. Area luar kuping Naura mengeluarkan kuning2 mengelupas dan berbau amis. YA, AMIS! Paniknya luar biasa saat itu karena bau nya sangat menganggu dan Naura juga rewel sekali. Tapi fotonya ga aku tunjukin ya karena agak geli takutnya menganggu :) Nah, ga pakai pikir panjang saya langsung bawa ke DSA. Beberapa kerabat menyarankan untuk langsung ke SPKK tapi kalau menurut aku buat anak better sih tetep DSA aja, ga perlu langsung ke SPKK soalnya kan terkait masalah takaran cream obat ya. Biasanya spkk itu tidak menjelaskan detail soal begitu, paling kalo di diagnosa A ya langsung kasih aja cream2 racikannya. Tapi aku bukan bahas SPKK dewasa gitu ya, just in case mommies ga tau, SPKK itu ada kok khusus anak misalkan kaya di RSCM dan Harapan Kita (tempat Naura lahir) Itu SPKK/Ahli alergi nya bisa dibilang TOP semua loh. You can start browsing dan baca review positif dari sekian banyak mama mama galau soal alergi.

Setelah ketemu DSA, akhirnya Naura benar-benar didiagnosis punya turunan Alergi/Dermatitis. Bayi 1 bulan kok alergi? Mungin itu yang langsung para moms tanyakan disini, dan sama itu pertanyaan saya juga waktu itu. Jadi memang alergi pada bayi baru itu bisa terjadi oleh sebab apa yang dimakan oleh si ibu, jadi lah kita memang yang harus berhati -hati. Saat konsultasi DSA langsung menjabarkan secara detail mengenai  banyak tes pantangan karena Naura masih ASI Exclusive. Apapun yang ibu makan, berdampak ke si kecil. Saya diminta untuk pantang satu persatu terhadap makanan yang memicu alergi seperti Telur, Seafood, Kacang, Susu. Jadi sembari saya observasi Naura secara perlahan. Disini tingkat kesulitan nya menurut saya, mengobservasi secara detail, mencatat setiap makanan yang saya konsumsi dan melihat efeknya pada Naura. Pada saat saya makan telur apakah Naura masih merah dan mengelupas? Jika iya kita akan tes lagi di Seafood. Begitu seterusnya sampai saya sendiri stress mikirin apa yang bisa saya makan dan memaksa diri untuk telaten mencatat dan mengobservasi.

Ini gambar yang aku dapat hasil browsing dari Pinterest untuk gambaran makanan-makanan apa yang memicu alergi.

Jadi menurut aku, alergi itu trial and error juga sih. Satu hal yang paling tricky juga adalah banyak sekai "Hidden Products" misalnya kita sudah stop untuk tidak makan telur, tapi kita makan pasta padahal di pasta itu mengandung telur. Kita mencoba untuk pantang susu sapi tapi malah makan kue kering ya tetep aja  itu mengandung susu sapi dalam bentuk butter. Jadi produk-produk turunan/tersembunyi inilah yang paling sulit dihindari buat saya.

Sebagai ibu dari anak alergi saya harus jeli memikirkan ingredients suatu masakan karena rata-rata semua makanan pasti mengandung yang di pantang itu huhu. Untuk amannya ya saya makan Ayam, Daging, Tahu, Tempe, Sayur, dan kalau mau nyemil ya coba cemilan pasar itu rata-rata ga ada telurnya. Kadang pas sarapan aja bingung nya luar biasa, cereal, roti, oatmeal, biskuit, semua ada susu atau telurnya. Jadi kalau sarapan ya oatmeal sama bubur. Oatmeal kan tidak mengandung susu dan telur plus yang penting jangan oatmeal instan. Kalau saya lagimau susu kadang beli ricemilk, ini banyak kok di supermarket besar. Untuk ikan juga kalau ikan sungai ga dipantang jadi aku masih bisa makan Gurame, Nila. Tapi bye-bye lagi sama Salmon...... kzlItu rasanya pengen cepet 2 tahun, yaampun!

Nah, selain makanan anak yang alergi itu harus inten jagain kulitnya supaya tetap lembab. Jadi ga boleh dijemur terlalu lama, tidak boleh mandi air hangat , setiap mandi air bak nya taruh minyak zaitun kalau saya. Intinya sih pokoknya kalau kulitnya kering dia akan merasa gatal terus meskipun ibunya sudah pantang makanan alergi nya. Ini salah satu foto dimana sesaat dan sesudah mandi dia akan MERAH BANGET kalau air nya terlalu hangat, jadi mesti agak dingin dikit. Gatau teori ini bener apa nggak tadi saat airnya agak dingin kulit Naura ga semerah biasanya. Ga cuma air, skincare juga sangat berpengaruh banget setelah aku trial and error. Salah satu yang berhasil bikin merah Naura ga kumat dan berkurang jauh itu produk Beauty Barn. Dulu pernah aku share karena kakak Naaya pakai, next aku akan share lagi produk baby nya termasuk untuk yang kulitnya bermasalah seperti Naura. It's a honest review, ampuh banget!


Oh iya pernah ada case dimana aku belum cerita banyak mengenai alergi dan hanya share sedikit di Insta Story saya beberapa bulan lalu dan ada yang bertanya soal pikirannya kira-kira seperti ini:

"Mom cin, bayiku nih alergian banget dari asi ku. aku jadi kasian kalau kasih ASI anakku malah semakin alergian terus karena aku susah pantang makan dan jadi kepikiran mau beralih ke sufor jadi dia ga kena dampak alergi asi"

Trust me, ITS A BIG NO. Bukan karena saya anti sufor or pro ASI banget ya, tapi memang salah satu proven benefit of ASI itu adalah dapat mencegah alergi meskipun dengan si bayi kena alergi tidak langsung dari ASI, si bayi akan menerima benefit pencegahan alergi dibanding sufor. Apalagi kalau udah ketahuan si bayi rentan alergi begitu, why choose sufor?

Sedikit tambahan explanations dari DSA ku dan juga yang telah kupelajari bertahun-tahun mengenai ASI akan aku share disini. Moms, ASI itu mengandung anti-alergi alami termasuk anti inflamatory, dan zat yang membantu melapisi dinding usus untuk mencegah paparan alergen protein. Sampai saat ini belom ada sufor semahal apapun kok yang bisa meniru zat-zat itu. Dan kalaupun suatu hari nanti bisa ditemukan zat yang serupa, itu belum tentu bisa terserap 100% oleh tubuh karena merupakan zat kimia. Got the point?

Selain itu, pemberian asi itu proses disensitisasi alergi natural, sama halnya kalo proses disensitisasi di dokter tubuh pasien akan dipaparkan dengan alergen dengan level rendah (pengalaman). Nah melalui ASI, protein asing yang masuk ke pencernaan pastinya tidak langsung dan sangat rendah kadarnya. Sehingga tubuh belajar untuk tidak menolak atau bereaksi secara over. Lama kelamaan tubuh akan lebih bisa bertoleransi dengan jenis2-jenis protein lainnya, inget deh konsep seperti ini nantinya akan sangat membantu saat proses MPASI. Karena kalau mau memperkenalkan makanan baru terus kita takut si kecil alergi, kita bisa coba terlebih dahulu makanannya dan lihat reaksi awalnya lewat pemberian ASI.

I hope you guys get the point. Untuk moms yang memutuskan untuk stop ASI dan diganti dengan sufor karena alasan alergi please reconsider karena sudah terbukti dengan riset puluhan tahun kalau dengan konsumsi sufor kemungkinan anak akan terkena adult alergi jauh lebih tinggi daripada yg ASI Exclusive. But I really understand your concern karena banyak case menurut DSA aku dimana para ibu sempat berfikir seperti itu karena ya ga tega melihat alergi anaknya kambuh terus karena minum ASI kita sendiri. Jadi sebenarnya kita sebagai ibu yang harus pintar mengatur makanan. I know it's hard at the beggining apalagi kalau belum terbiasa pilah-pilah makanan secara mendetail. Pokoknya selalu dibawa santai.

Oh iya satu lagi, pernah denger ga orangtua kita bilang kalau alergi kasih aja dikit dikit perlahan belajar supaya nanti kebal? This is totally wrong. Kalau kalian sempet tanya-tanya ke dokter imunolog, hal ini sangat tidak disarankan ya karena malah semakin memicu alergi jenis protein lain atau bahkan memperparah reaksi alergi dikemudian hari. Kalau memang ada yang menerapkan konsep seperti itu dan alerginya hilang mungkin memang karena childhood allergy nya hilang sendiri seiring dengan waktu. Bukan karena dikasih terus malah jadi kebiasa dan ga alergi lagi loh ya, itu salah banget. Well, sharing ku hari ini aku sudahi dulu ya mengingat si kecil sudah mulai ada suara-suara alias sudah bangun. Feel free to ask me anything through comment/dm or email. I'm not an expert tapi sebisaku biasanya masih suka jawab-jawabin pertanyaan based on my experience.


Thank you for reading and have a nice day!

No comments:

Post a Comment