Tuesday, October 17, 2017

My Breastfeeding Journey

Menyusui di sela-sela pekerjaan

Kalau bercerita soal breastfeeding, pastinya semua ibu mempunyai pengalaman yang unik dan berkesan pada setiap anak. Dulu aku pernah bercerita singkat mengenai pengalaman ku menyusui Kakak Naaya disini, silahkan kalau mau dibaca-baca lagi. Pastinya menyusui adalah sebuah perjuangan untuk seorang ibu, bukan cuma sekedar anak latch-on terus udah tinggal diisep lalu kelar, it's more complex than that. Belum lagi banyaknya mitos diluar sana yang kadang sangat membingungkan bagi para ibu, terutama ibu baru.



Berbekal pengalaman waktu anak pertama, ditambah kembali membaca buku-buku mengenai newborn dan perASIan (Yes, i'm a book lovers) selain itu biasa nya masuk usia kandungan diatas 34 weeks aku sudah mulai rajin membersihkan puting, mengompres serta memberikan pijatan kecil untuk merangsang ASI keluar. Menurut aku itu perlu banget sih karena pengalaman dari jaman Kakak Naaya hasilnya mendekati hari H ASI kita sudah keluar. Beberapa jam sebelum Naura lahir saya merasa cukup tenang saat harus menyusui Naura, meskipun tidak sempat IMD seperti yang aku ceritakan disini, tapi begitu Naura masuk ke ruangan kamar, dia langsung latch-on dan mencari puting saya dengan mudah dan langsung segera menyusui tanpa Naura rewel sehingga aku cukup yakin kalau dia kenyang. Tapi tetap saja, selancar-lancarnya saya menyusui, payudara saya pasti lecet sampai berdarah. Rasa sakitnya juga luar biasa namun tertahankan saat melihat Naura menyusu dengan tenang sampai dia tertidur. Jadi setiap hari nya saya mencoba memaksakan diri untuk kuat menyusui, dari pengalaman anak pertama sakit menyusui itu berlangsung kurang lebih 1-2 minggu. Bahkan di hari kedua puting saya berhasil lecet sampai terkelupas sampai saya harus menangis saat menyusui. Tapi begitulah perjuangan ibu, semua toh tergantikan dengan senyum kekenyangan si kecil.

Naura right after her first latch-on

Foto diatas siambil tepat setelah Naura menyusui untuk pertama kali saat pagi hari. Karena fotographer saya laki-laki jadi suami tidak mengijinkan untuk mengambil gambar menyusui pertama. Well, selama 3 hari pasca operasi semua berjalan seperti biasa. Menyusui-lecet-berdarah-menyusui lagi, dst. Sampai akhirnya Naura dinyatakan kuning dan harus disinar, disinilah perjuangan baru dimulai. Saat Naura pindah ruangan, saya sering tertidur cukup lama dan lupa untuk pompa. Padahal sudah siap sedia pompa di hospital bag dan suster juga sudah mengingatkan untuk memompa ASI untuk nanti diberikan di ruang sinar dengan cup feeder supaya saya juga mendapatkan istirahat yang cukup mengingat saya nonstop bersama bayi ga mau pisah :p Tiba-tiba payudara saya nyeri sekali saat saya bangun dan kasur benar-benar banjir saat itu, ketika saya mau bangun memindahkan posisi tangan, alhasil saya menjerit kecil memanggil suami karena sadar payudara saya membengkak dan mengeras seperti batu. Ya Allah, sakit nya agak susah saya jabarkan disini sih.... pokoknya sakit banget-banget-banget.

H+3 pasca operasi, perut belum kempes. Ini suami manggil suster karena saya kesakitan PD nya membengkak, huhu.

Akhirnya suster dan suami bergantian membantu untuk memijat area luar payudara saya dan saya sambil menampung tumpahan ASI di ASIP bag yang sudah saya persiapkan juga di hospital bag. Jangan kira langsung enak ya, sepanjang pijet saya cuma nangis kesakitan menahan diri supaya itu cepet kempes. Bahkan kalau dipegang sudah ada grindel-grindel semacam batu di area payudara saya. Dari sekedar pijet saja ASI saya sudah terkumpul sampai 80 ml, yas sebengkak itu. Suster belum menyarankan saya pompa dulu takut kesakitan jadi kita memilih opsi untuk pijat dulu. Setelah saya merasa cukup lega (meskipun masih bengkak) lalu tengah malam saya dibantu suami untuk memasang alat pompa. Kurang lebih 10 menit botol pompa kiri kanan cuma terisi 30 ml. Sebel, padahal payudara bengkak banget. Akhirnya kita kembali ke opsi pijit dan saya menampung denga ASIP bag lagi karena dapatnya lebih lumayan.

Sekitar subuh akhirnya Naura dibawa untuk menyusu langsung supaya payudara saya cepat kempis, memang sih lega banget rasanya. Setelah semalaman dipijat dan ditampung lanjut Naura menyusu, saya bersyukur banget karena ga harus menangis kesakitan lagi. But, ternyata itu cuma kebahagiaan sementara, haha. Waktu Naura kembali disinar, itu payudara saya bengkak lagi... dan batu-batu itu masih belum mau hilang. Tiap kompres pakai handuk hangat, yang ada handuknya cepet banget dingin capedeh... Untung salah seorang kerabat datang dan memberikan solusi yang cukup smart menurut saya. Dia mengambil dot isi air hangat, lalu botol dot itu dipijat diatas payudara saya. Amazing, suami ga perlu ganti-ganti air hangat berkali-kali, itu air hangat bertahan cukup lama di dot dan botol dot nya cuma perlu di roll aja kaya lagi ngeroll adonan roti gitu (paham ga?) Dari sore sampai tengah malam saya mengandalkan tuh botol dot untuk memijat payudara saya, alhamdulilah itu batu-batu bandel akhirnya mulai kempis.

Perjuangan masih panjang dong pastinya apalagi begitu sudah dirumah. Menyusui masih terasa menyakitkan karena luka di area puting terus muncul. Setiap saat saya oles lucas papaw dan saat Naura mau menyusu saya bilas dengan air hangat. Sekalinya ada luka di payudara kiri kita pindah ke kanan dan menunggu sampai luka di kiri kering, begitu sudah kering eh di kanan jadi muncul luka berdarah karena kelamaan di kanan. Begitu aja sih seterusnya sampai mamanya kesakitan setiap pakai bra. Nah, selain direct breastfeeding yang cukup menyiksa, saya masih harus menghadapi perihnya memompa ASI dalam keadaan payudara luka. Itu luar biasa deh perihnya, mau ga mau saya harus vacuum dengan power paling kecil karena takut keluar darah dan kecampur dengan ASI.

Golden Liquid yang disertai dengan rasa sakit luar biasa :')

Nah, bagi para calon mama baru yang hendak menyusui, ini ada beberapa tips dari saya sebelum menyusui:
  • Pastikan suasana hati tenang dan bahagia sebelum menyusui. Bisa dengan musik, berbincang bersama suami, kalau aku selallu setelah lahiran sudah mempersiapkan aromatherapy untuk membuat saya rileks dan tenang. Ini sangat membantu proses awal saya menyusui.
  • Ambil posisi yang nyaman untuk menyusui, entah di kursi ataupun kasur. Jangan lupa siapkan bantal menyusui atau bantal-bantal apa saja untuk membantu menopang kepala bayi agar tangan ibu tidak pegal.
  • Kompres payudara dengan air hangat untuk memperlancar sirkulasi darah dan jangan lupa membersihkan puting payudara sesaat sebelum menyusui dan juga sesudah menyusui. Siapkan juga kapas air hangat tambahan untuk mengelap mulut bayi sehabis menyusui.
3 tips diatas menurut aku adalah tips yang paling crucial jadi ga perlu banyak-banyak ya tips nya hehe. I'm not an expert too hanya sharing pengalaman menyusui setelah punya dua anak. Mama bisa browsing-browsing lagi dan membaca tips-tips lain untuk mempersiapkan diri mama, boleh juga belajar di Klinik Laktasi jika memang dirasa perlu. Kira-kira begitu sih pengalaman singkat saya saat menyusui Naura. Saya masih sangat ingin berjuang sampai 2 tahun sama seperti kakak Naaya, jadi kemanapun saya pergi saya selalu mengusahakan Naura ikut agar bisa direct breastfeeding. Kalau pun saya merasa Naura sudah terlalu sering keluar saya akan memaksimalkan pompaan di malam hari agar asupan ASI nya terpenuhi. Pernah suatu saat ASI habis saat Naura dititipkam ke oma nya, saya punkalau diluar tidak lepas dari pompa dan cooler bag jadilah saat itu langsung saya kirimkan dengan GO-SEND demi Naura dapat ASI.

Memberikan ASI bagi saya adalah pengalaman berharga dan unik pada masing-masing anak yang meskipun menyakitkan tapi saat mengingat kembali dan menulis ini saya merasakan kebahagiaan tersendiri karena saya sudah berjuang untuk Naaya dan Naura untuk memberikan hak mereka yaitu Air Susu Ibu. Boleh loh, share pengalaman menyusui kalian di kolom comment. I'm glad to know the story! :D

Thank you for reading and have a nice day! :)

No comments:

Post a Comment