Friday, August 9, 2019

Day 3 - Yogyakarta Bagian Barat


Ini bisa dibilang salah satu tulisan yang paling saya tunggu, Yogyakarta Bagian Barat. This area seems to have their own charm dan membuat saya senyum-senyum sendiri bahkan saat menulis ini. Kami memulai hari kami di jam 03.00 WIB, demi memenuhi bucket-list ku untuk menikmati Sunrise di Borobudur. Awalnya cukup ragu apakah niat ambisius saya untuk naik keatas sini sama anak-anak bisa berhasil dan alhamdulilah, we made it!
Dari malam hari saya sudah mempersiapkan anak-anak dengan tidur cepat, membalur mereka dengan berbagai minyak agar tidur mereka nyenyak dan siap dibangunkan pada dini hari. Tidak lupa juga menceritakan sedikit kisah tentang Borobudur sebelum mereka tidur agar mereka semangat saat dibangunkan esok dini hari. Sekitar pukul 03.00 WIB pihak hotel membangunkan kami melalui telepon. Ya, mereka membantu mengatur segala urusan Sunrise di Borobudur ini. Oh iya, kami menginap di Shankara Borobudur, karena kebetulan hanya ini yang kosong. Sudah niat banget mau nginep di Plataran Borobudur tapi apa daya, full.



Pagi itu rasanya semua anggota keluarga sangat bersahabat, seperti yang saya duga kakaknya bangun dengan semangat dan tanpa keluhan. Suami pun semangat untuk menjelajahi borobudur di pagi hari. Adiknya? Masih molor meskipun diangkat dari kasur, hehe.

Kami semua berangkat dengan mobil dan parkir di halaman hotel Manohara, pihak hotel mengurus urusan tiket dan setelah selesai kami diberikan senter untuk naik ke area Borobudur. Waktu saat itu menunjukkan pukul 04.30 dan masih gelap sekali, kami berjalan keatas dan tidak sampai 5 menit kami sudah masuk ke area Borobudur. Effort sekali karena mesti menggendong Naura mengarungi area Borobudur. Naaya tampak semangat menaiki setiap anak tangga di candi, namun baru beberapa anak tangga saya naiki, saya benar-benar kehabisan napas karena tangga yang cukup tinggi dan Naura sangat berat, huhu. Suami pun bergantian menggendong Naura keatas, dan mereka bertiga sampai duluan diatas. Saya dan mbak malah ketinggalan jauh dibelakang.

Sampai diatas sini, gantian Mbaknya yang bertugas megang Naura. Saya, suami dan Naaya duduk menunggu keindahan matahari untuk muncul. Duh, sungguh sulit di deskripsikan dengan kata-kata keindahan sunrise dari atas candi borobudur, tidak banyak orang diatas sana, hanya beberapa turis asing duduk bersantai menunggu sang matahari muncul. Tenang rasanya, tidak ada kegaduhan, banyak yang mengabadikan momen melalui HP/Kamera nya lalu saya bisa mendengar decak kagum dari beberapa turis asing ini. Setelah menikmati keindahan langit pagi itu, barulah kami mulai berfoto-foto diatas sini. Bahkan ada pak satpam yang baru saja naik menawarkan kami untuk berfoto-foto disini. Jadilah kami punya foto-foto cantik berduaan disaat anak-anak sudah mulai terlelap di pangkuan mbaknya.

Pagi itu indah sekali, udaranya sangat segar dan kami tidak berhenti tersenyum melihat langit.

Saat masuk pukul 6.00 WIB entah kenapa area ini mendadak ramai, sepertinya sudah dibuka untuk umum. Kerumunan pagi itu sudah seperti pasar dan kami semua bersama turis asing lainnya bergegas turun. Sesampainya di area Manohara kami disambut beberapa orang yang mengajak kami masuk ke area Manohara Hotel, ternyata kami juga disiapkan snack untuk ganjalan perut pagi itu. Ada beberapa suguhan kue, buah, teh dan kopi. Setelah ngemil sedikit, kami kembali ke mobil dan berangkat ke hotel lagi.

Tidak lama kami mencoba untuk menikmati sarapan dulu sebelum berlanjut ke area Gereja Ayam. Sayang sekali, sarapan di hotel itu sangat tidak enak dan tidak menggugah selera. Kebanting sama suasana nya, kebanting sama hotel saya sebelumnya. Jadilah kita makan seadanya aja dan pengen kulineran diluar aja.

Kami menuju ke perbatasan Yogyakarta dan Magelang agar segera sampai ke Gereja Ayam. Sayang sekali sesampainya disana anak-anak malah tertidur pulas dan ga mau dibangunin, jadi ya kembali saya dan suami dapat waktu pacaran.


Untuk naik keatas Gereja Ayam ini, kita bisa menggunakan jeep dengan membayar Rp 7.000 per orang sekali jalan, jadi untuk naik turun kena Rp 14.000 per orang. Ditambah tiket masuk sekitar Rp 20.000 per orang jadi saat itu kami membayar sekitar Rp 68.000. Sesampainya diatas sini kita diberi kesempatan untuk mendengarkan penjelasan tentang area ini, jadi aslinya ini adalah Gereja namun sekarang sudah menjadi Rumah Doa untuk semua umat. Dan bentuk aslinya itu adalah Burung, bukan Ayam. Karena terlalu gemuk jadi banyak yang menyangka itu ayam..... haha. Nah ternyata ini tuh jadi populer karena film AADC ya katanya? Saya sendiri sih malahan karena liat instagram @exploreyogya aja sih gatau karena ini masuk film AADC. Maklum kudet.

Pas awal masuk kita dijelasin kalau nama asli area ini adalah Bukit Rhema, tapi karena memang bentuk nya seperti ayam jadi disebut Gereja Ayam, padahal aslinya bangunan ini dibuat menyerupai burung Merpati. Random banget ya, haha.



Ada juga area doa, dimana orang orang bisa menuliskan kertas kertas doa didalamnya. Karena kata suami ga boleh nulis permintaan karena musrik (bener ga sih tulisannya) jadi aku cuma nulis nulis quotes aja sama suami haha.



Didalam kami sempat mengekplorasi area area yang berbentuk seperti goa namun ada sekat sekat pintu dimana itu seperti ruang doa private, ada juga hall besar sepertinya dulu tempat beribadah, area mural dimana banyak gambar-gambar yang berisi pesan-pesan, sampai ke puncak dimana pintu naik ke puncaknya itu bisa dibilang kecil sekali dan menampung hanya 5- orang. Jadi untuk naik keatas sampai puncak memang harus bergantian, tapi disediakan kok kursi tunggu gitu dibawahnya.

Pemandangan dari atas puncak Gereja Ayam bisa dibilang sangat sangat sangat indah. Mind blowing! Karena tidak ada antrian jadi saya dan suami puas berlama-lama diatas sini menikmati pemandangan kota Yogyakarta. Ya sampai lupa tuh anak-anak nungguin di mobil :p Ga lupa kita foto-foto diatas sini berasa beneran kaya Cinta dan Rangga *duileh*

Dibagian sebaliknya area puncak, ternyata ada tangga juga yang menuju ke kafe. Kafe nya ga kalah ciamik karena kita bisa menikmati sepiring singkong goreng yang dituker dari tiket masuk sambil menikmati pemandangan kota Yogyakarta. Duh, pewe banget beneran. Mereka juga menjual snack dan kopi cuma aku ga terlalu recommend, karena kopinya ga enak kebanyakan air dan hambar. Rasanya ga pengen udahan nongkrong diatas situ tapi apadaya, kita harus bergegas kembali ke Jakarta.


Turun ke mobil, anak-anak masih tertidur pulas jadi kita memutuskan untuk cari makan disekitar situ. Ga lupa googling makanan apa yang direkomendasikan di sekitar situ dan kita menemukan Sop Senerek Iga Sapi Banar. Menu favorit nya sih si Sop Senerek itu, tapi semua menu kita pesan but.... we dont really like it. Biasa banget, haha.

Setelah mengisi amunisi kita lanjut deh road tripan pulang ke Jakarta. Seru banget perjalanan selama di Yogyakarta ini. Eh sama sebelum penutupan, kita sempat mampir tegal untuk makan malam dan for the first time nyobain makanan khas tegal yang namanya Sauto. OMG enak banget! Kita cobain salah satu rekomendasi sauto di sana yaitu Warung Sedap Malam Pak Kiman. Duh sulit move on aku tuh. Ini baru kulineran enak, hehe.

Nah, sekian dulu ya cerita Yogyakarta hari ketiga ini. Kalau ada pertanyaan boleh banget loh leave any comments. Harapanku, semoga bisa road tripan lagi tapi jangan di Indonesia, hmmm apa ya.... New Zealand maybe? *kode*

Thank you for reading and have a nice day!

Post a Comment

© Family and Lifestyle Blog