Monday, October 14, 2019

6 Hari di Tokyo untuk First Timer! (Tanpa JR Pass!)



Tokyo..... a city of contrasts, blending the old with the new. From ancient Japanese temples to towering skyscrapers, Tokyo has it all. Yes, i'm in love with this enchanting city!
Kepergian saya kemarin ke Tokyo bisa dibilang sangat dadakan, di salah satu group Whatsapp pertemanan saya, kita memang suka merencanakan kepergian dadakan memang, karena biasanya pasti akan jadi dan tidak berujung wacana semata. Sering ga sih kalian gitu juga? Haha

H-3 minggu dari tanggal keberangkatan, kita membicarakan Bali. Bali Bali and Bali, yes we (as moms) desperately need a lot of VitaminSea, so we can't stop thinking about Bali. Turned out aku malah menggeser percakapan ke Tokyo, haha. I told them kalau aku ada rencana bepergian ke Tokyo pada awal bulan Oktober untuk stock barang dari sana (You can check my online shop at @thelostandfound.id btw :p) And as #TimDadakanPastiJadi of course lah, percakapan sederhana itu bisa bikin kita semua beneran berangkat, wakkakaka. 

Salah satu ada yang ragu visa akan tembus, yang satu geser geser jadwal supaya ga bentrok sama PTS anak sekolah, yang satu santai aja karena udah E-passpor gausah mikirin visa, well semua punya concern masing-masing tapi dalam hati merasa kita pasti jadi berangkat. Akhirnya kita ubek-ubek tiket secara dadakan, menemukan tanggal yang pas untuk pergi bareng, dan membeli tiket pesawat Cathay Pacific dengan kisaran harga 5,2 untuk PP Tokyo-Jakarta with a short transit di Hongkong.

Setelah tiket aman, kita lanjutin ya beberapa perintilan yang mulai diurus setelah kita membeli tiket Jakarta-Tokyo.

1) Passport dan Visa
Saat itu kita urus visa di JVAC (Japan Visa Application Center) di Lotte Avenue Kuningan. Tidak terlalu lama kok, 4 hari jadi hehe bahkan setelah apply kamu bisa pilih jasa kurir gitu untuk visa nya dianterin dengan biaya tambahan yang ga terlalu pricey menurut saya. Untuk kelengkapan dokumen yang diperlukan kamu bisa baca-baca di website JVAC nya ya lengkap banget kok. Dan enaknya jam buka mereka lebih fleksibel ketimbang di kedutaan langsung. Mereka melayani jam diluar office hours dengan sedikit biaya tambahan CMIIW. Bahkan kalau ga sempet foto disana ada area photobooth, ga sempet fotokopi dan print disanapun disediakan fasilitas tersebut. Serba simple menurut saya dan benar-benar membantu banget.

Saya urus visa di hari Senin sekitar jam 3 sore dan jam setengah 5 udah selesai, antrian ya normal lah ya ga sampai nguler gitu. Kalau mau cepet bisa kok by appointment dulu, cuma karena aku takkut tiba tiba ada halangan jadi langsung dateng gitu kemarin. Biaya urus visa kemarin habis sekitar 500rban (lupa exact amountnya berapa). Info dari pihak JVAC kamis malam akan ada email pengambilan paspor yang artinya Jumat sudah bisa diambil, kalau pakai kurir bisa juga dianter sampai Jumat atau Senin.

Soal kelengkapan nya apa aja kalian bisa cek website JVAC langsung ya ga akan aku jabarin disini, tapi kalau sepengalamanku yang terpenting dalam pembuatan visa adalah tujuan dan tanggal yang jelas soal keberangkatan, lalu minimal saldo di bank harus mencukupi biaya hidup kamu selama di negara tersebut, akan terlihat di rekening koran yang kamu berikan ke pihak kedutaan selama 3 bulan terakhir.

2) Akomodasi

Source: AirBnB

Akomodasi yang tepat pastinya bikin kita saving more time and energy dalam bepergian. Dalam hal ini suami temenku kebetulan yang bertugas untuk mencari, agak sulit awalnya karena ada perubahan juga dari yang rencananya girls trip mendadak salah satu rombonganku harus membawa anak sehingga kita harus bener-bener cari penginapan yang kids friendly.

Kita kebetulan banget dapet apartment yang aksesnya super enak. Viewnya langsung ke Tokyo Skytree, jalan kaki cuma 5 menit, bener-bener di belakang apartment. Dari Narita Airport tidak perlu ganti train, jarak kurang lebih 45 menit dari Narita. Dari station nya pun ke apartment cuma 2 menit jalan kaki, yes sedekat itu. Dan yang lebih penting lagi, ada dua konbini (convenience store) di dekat apartment yaitu Family Mart dan 7 Eleven. Udah deh mantep banget pokoknya, meskipun belum ada perbandingan dengan apartment lain di Tokyo, buat saya ini apartment bener-bener perfect banget posisinya. Buat yang nanya nama apartmentnya aku gatau namanya apa, tapi ini aku kasih link nya ya : AirBnB Japan

Untuk harga sendiri kita menghabiskan kurang lebih 8,5jt untuk 6 hari disana dengan kapasitas 4 orang dalam satu apartment. 

3) Transportation
Urusan transportation, karena ini adalah urusanku jadi dari Jakarta aku udah download app Tokyo Subway dan juga Japan Direct, rekomendasi dari beberapa travel blogger soal Jepang. Supaya ga ribet download-download lagi disana pikirku, soalnya dari Jakarta aku juga mau pelajari beberapa line nya. Rumit banget sih, asli.

Surprisingly selama disana malah lebih terbantu sama Google ketimbang app-app ini beneran deh. Di Google udah lengkap banget line apa yang harus diambil, bahkan ada waktunya kapan kereta itu dateng. Misalkan kalian dari station Shibuya mau ke Asakusa, itu tinggal search "From Shibuya Station to Asakusa Station" 

Kalau kalian lihat disebelah kiri, kita bakal diarahin naik Hanzomon Line (Line disana tinggal lihat warna aja sama logo, yang Z ungu itu means Hanzomon Line) berhenti di Omote-Sando Station, lalu di sana ganti train ke Ginza Line (G Kuning) dan stop di Asakusa Station. Sampai deh!

Tips buat saving time lainnya dari aku: Jangan lupa dari Jakarta cari info soal exit tujuan kamu, karena di satu station exitnya bisa banyak banget. Misalkan kamu dari Asakusa Station tuh mau ke Senso-Ji Temple, exit A4 paling deket, catet deh jadi disana ga planga plongo cari exit.




Masih soal akomodasi, kita disana full pakai Tokyo Metro Subway (kereta bawah tanah) jadi SAYA ga bisa kasih rekomendasi bus-bus atau taxi or anything. Sistem pembayarannya pakai koin di mesin-mesin yang tersedia disana, kebetulan teman-temanku beli satu persatu tiket ke tempat tujuan dan aku beli tiket 72-Hours Subway yang unlimited dipakai selama 72 jam dari awal kita mulai pakai.

Ini bisa jadi SANGAT irit kalau kamu cukup ambi dalam sehari kuat ke beberapa tempat, karena dia kan unlimited. Jadi kalau kamu pergi selama 6 hari ya bisa beli yang 72 jam 2 tiket. Dia ada pilihannya gitu 24H, 48H sama 72H. Untuk yang 72H ini kemarin aku  beli di harga 200ribu dan nanti vouchernya dituker saat kita di Narita Airport. 

Kenapa beda sendiri dari yang lain? Tujuannya sebenernya untuk perbandingan mana yang lebih irit, cash kah atau kartu unlimited ini. Cuma ini hanya bisa dipakai buat Tokyo Subway aja ya.



Ada juga sih kartu kartu lain yaitu kartu elektronik; ada Suica dan Pasmo, dan ini yang lebih praktis memang menurutku. Semacam flazz dan e-money gitu bisa diisi ulang. Waktu itu memang karena waktu yang mepet untuk cari tau soal kartu kartu ini jadi aku pass dulu. Tapi next time udah pasti akan purchase Suica or Pasmo, karena ga cuma Tokyo Metro aja, di vending machine, storage-storage di station, konbini, semua bisa bayar pakai kartu ini. 

Yang jelas kalau harus bayar full satu satu tiket, ternyata benar lebih mahal dan lebih boros setelah aku bandingkan dengan tiket grupku, lalu juga kalian akan ribet berurusan sama koin koin untuk bayar tiket setiap perjalanan. Jadi aku tetap akan merekomendasikan IC Card/Subway Card.

JR Pass gimana mamacin?
Ini salah satu pertanyaan terbanyak waktu saya ke Tokyo kemarin. Perlu ga sih JR Pass? Kalau dari itinerary saya sih ya ga perlu, saya ga terlalu ambi ke suatu negara eh pengen explore semua kotanya langsung. Itinerary kita saat ini full untuk explore kota Tokyo. Di satu kota aja menurut saya pasti banyak banget yang bisa dijelajahi. Next time, baru deh tuh saya akan kepikiran untuk beli JR Pass kalau mau keliling kota lainnya di Jepang, saat ini bahkan aku masih mau balik ke Tokyo dulu, belum puas ngiderinnya hihi. Semoga deh dikasih rejeki lebih lagi sama Allah untuk balik ke Jepang.

3) Wi-Fi
Untuk urusan koneksi disana, ini suami temenku juga yang urus. Kita pakai passpod saat itu dan menghabiskan kurang lebih 150.000 selama 6 hari dengan deposit 500.000 masing masing pakai satu passpod in case ada yang misah kita jadi tetap gampang berkomunikasi. Murah sih menurutku, ketimbang beli SIM Card kalau aku baca di internet. Tapi kalau penasaran, bisa coba bandingin dengan beli SIM card di beberapa agen perjalanan. Paling sering aku baca orang beli SIM Card di K**** tapi katanya internet nya slow banget? Entahlah. Yang jelas passpod ini cepet banget koneksinya selama disana. Passpod ini bisa dianter kerumah, dan pick up di airport. Kita kemarin pick up di airport. Selain wifi kita dikasih juga powerbank dan tas passpod nya gitu buat dibawa. Aku sendiri memilih ninggalin tasnya, jadi cuma bawa passpodnya aja, karena makan tempat euy.

Oh iya FYI banyak yang gatau kalau di hotel/apartment jepang tuh mereka sediain wifi yang bisa dibawa juga loh untuk keluar hotel/apt dan udah sekaligus dalam bentuk powerbank juga, meskipun limitnya kecil paling cuma 500 MB - 1 GB tapi lumayan banget kalau tiba tiba paket kalian habis atau belum sempat sewa wifi.

4) Itinerary
Yang paling ditunggu, itinerary! Hihi ini semua aku susun berdasarkan hasil research selama beberapa hari aja. Tujuannya ya cuma belanja, kulineran, foto-foto di tempat kece Tokyo (We're on the city bruhhh!) jadi kalau dirasa cocok boleh diikuti, bisa juga di modifikasi sedikit. Salah satu anggota kami yang membawa anak juga mengubah salah satu itinerary weekday nya menjadi full Disneyland Trip di hari Senin karena berencana pisah dari rombongan, jadi masih bisa dikutak katik lah pokoknya.

Yang aku perlu note lebih ke tempat makannya, di itinerary itu aku udh pilah tempat makan yang ada di area-area tersebut jadi gausah ngider sana sini cari makan apa. Contohnya kaya Gyukatsu Motomura, karena outletnya di Shibuya antriannya lebay, kita masukin deh di itinerary waktu di Harajuku, dimana outletnya paling sepi ya disitu. Terus kalau kepengen banget Ichiran tapi kan ga halal ya, masukin deh tuh pas kalian lagi di Shinjuku karena cuma ada disitu Ichiran yang No Pork. Soalnya kalau kalian udh susun itinerary mau ke tempat A eh tiba tiba mau makan di area B duh jauh lagi dan ga maksimal kalian ngider-ngidernya. 


Oke, kayanya udah semua ya detail tentang First Timer Tokyo. Segitu dulu ya rangkuman soal perjalanan ke Tokyo. Nanti kalau ada yang belum jelas boleh banget tanya-tanya di DM inshallah aku jawab pas ada waktu luang. Kalau soal area area yang di explore nanti aku bikin di post terpisah ya biar ga berantakan.

Thank you for reading and have a nice day!

1 comment

  1. Momcin bikinin rincian biaya selama di Tokyo dong mba, versi budget dan non budget, inshallah akhir tahun mau berdua suami kesana tapi galau mau bawa dana berapa, pengennya sih yang irit aja hhihhi makasiy sebelumnya

    ReplyDelete

OLD
© Family and Lifestyle Blog